Berita Narkoba (Video)
Kamis, 19 Februari 2009
Publik Figur dan Narkoba (1)
Tragis. Mantan juara tinju dunia Ellyas Pical ditangkap karena jualan ekstasi. Elly kini meringkuk di sel polda. Masih banyak orang ingat, 20 tahun yang lalu Elly jadi legenda. Ia merebut sabuk juara dunia kelas superterbang versi IBF dari petinju Korea Selatan yang temperamental, Judo Chun. Tangan kiri Elly benar-benar merontokkan lawan. Pertarungan itu digelar di Istora Senayan pada Sabtu 4 Mei 1985 dan disiarkan langsung oleh satu-satunya televisi yang ada di Indonesia: TVRI. Tepuk tangan membahana di mana-mana ketika anak Ibu Pertiwi mengukir sejarah bertaruh nyawa. Elly menjadi petinju Indonesia pertama yang meraih gelar juara dunia di usia 25 tahun. Elly yang lahir di Saparua, 24 Maret 1957 kini tinggal di Jalan Duta Bintaro, Blok C/22, Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang. Nyong Ambon itu kemudian ditangkap polisi di Lantai IV Mille's International Executive Club alias Diskotek Mille's. Diskotek ini terletak di Gedung Hari-Hari di kompleks Lokasari, Jalan Mangga Besar, Jakarta Barat. Elly ditangkap Rabu (14/7) sekitar pukul 00.30 WIB. Selain Elly, dua wanita dan seorang pria rekan Elly juga ditangkap oleh tim reserse narkoba Polda Metro Jaya. Barang bukti yang diamankan adalah 19 butir ekstasi yang diedarkan oleh Elly dalam kapasitasnya sebagai anggota satpam diskotek. Kanit Narkoba Polda Metro Jaya Kompol Sukisno yang mendampingi Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Tjiptono menjelaskan, Elly dkk diintai sudah lama. Untuk melancarkan operasinya guna mendapatkan barang bukti, polisi menyamar sebagai konsumen. Mereka berbaur dengan para pengunjung diskotek tersebut untuk kemudian memesan ekstasi yang sangat digandrungi para tamu. Ini dilakukan mulai Selasa (12/7) malam. Sasaran pertama bukan Diskotek Mille's tapi Diskotek Athena yang terletak di Jalan Kalibaru, Tambora, tak jauh dari Jembatan Intan. Dalam penyamaran ini polisi menemukan kelompok atau jaringan Ellyas Pical yang menguasai beberapa konsumen. Kelompok ini ternyata menggunakan dua wanita sebagai ujung tombak pemasaran. Salah satu wanita yang jadi komplotan Elly adalah AAH (24) atau Aih yang berasal dari Desa Jaya Mukti, RT 05/02, Panca Tengah, Kabupaten Tasikmalaya. Nama wanita sengaja disembunyikan karena masih dalam pengembangan. polisi. Aih bekerja sama dengan Dede Jaenudin (25), yang juga berasal dari Tasik. Aih dan Dede beroperasi di halaman parkir Diskotek Athena dan di sana pula, mereka ditangkap. Polisi menyita 15 butir ekstasi warna kuning dan satu butir ekstasi warna biru. Perburuan polisi dilanjutkan ke Diskotik Milles di Lokasari, Mangga Besar. Sebab, jaringan di dua diskotek ini saling bekerja sama. Yang pertama dibekuk di Diskotek Mille's adalah Lisdianah (33) yang tinggal di Jalan Mangga Besar XIII. Dari tangan wanita itu polisi menyita 3 butir ekstasi seharga Rp 300.000 sebagai barang bukti. Ketika diinterogasi, Lisdiana mengaku barang haram itu milik Ellyas Pical. Untuk membekuk Ellyl tidak begitu sulit karena pria mantan petinju kidal itu selalu berada di Diskotik Mille's sebagai penjaga keamanan.Beberapa rekan Elly sesama anggota satpam menolak memberikan penjelasan seputar kasus ini. Tapi mereka mengakui Elly bekerja di diskotek dan ini diperkuat oleh beberapa penjual rokok. Kurang lebih dua tahun Elly alih profesi sebagai petugas keamanan tapi selalu kena shift malam mulai pukul 22.00 WIB hingga 07.00 WIB. "Gampang dibohongi" Penangkapan Ellyas Pical karena narkoba sangat menampar dunia olah raga Indonesia. Ketua Umum KONI Pusat Agum Gumelar pun prihatin. "Saya prihatin, kalau memang Elly Pical tertangkap karena kasus narkoba. Apalagi, saat ini pemerintah sedang melakukan perang besar-besaran melawan narkoba," kata Agum di Senayan, kemarin. "Saya akan mencoba untuk mencari kejelasan tentang kasus ini," tambahnya. Sedangkan mantan juara dunia kelas terbang mini versi IBF, Nico Thomas yang ditemui terpisah, tak yakin Elly bersalah. Nico menduga Elly sengaja diperalat seseorang untuk melancarkan bisnis barang haram itu."Elly 'kan gampang dibohongi. Saya tahu persis dengan hal itu. Makanya, saya tidak yakin Elly Pical melakukan tindakan yang kurang terpuji," ujarnya. Senada dengan Agum, Nico juga mengungkapkan rasa prihatin dengan kasus yang dialami Elly Pical. "Saya terus terang prihatin dengan hal ini. Sebab, gelar juara dunia yang diperolehnya dengan mempertaruhkan nyawa tercoreng hanya karena kasus narkoba ini," katanya.
Sumber : http://www.narkoba-metro.org/
Rabu, 18 Februari 2009
Rp 16,34 Miliar Peredaran Uang Bisnis Narkoba Tahun 2008
“Oleh sebab itu saat ini kantor-kantor pemerintah harus dijadikan target serius penanggulangan narkoba, begitu juga kantor-kantor swasta, khususnya perkantoran yang relatif besar, apalagi terkesan eksklusif dan tertutup bagi orang luar,” tegas Direktur Pusat Informasi Masyarakat Anti Narkoba Sumut (Pimansu) Drs Zulkarnain Nasution MA saat audiensi dengan Kepala Badan Infokom Sumut Drs H Eddy Syofian MAP, Selasa [20/01].
Pada kesempatan ini Badan Infokom Sumut dan Pimansu sepakat kerjasama membantu penanggulangan narkoba di Sumut melalui sosialisasi dan pusat informasi anti narkoba khususnya berbasis tempat kerja seiring pemberian informasi bahaya narkoba kepada masyarakat berbasis dunia pendidikan dan kelompok masyarakat termasuk organisasi-organisasi keagamaan.
Pimansu mendeteksi sudah banyak kantor pemerintah maupun swasta yang diduga menjadi semacam wadah berlindung bagi pengguna narkoba dari kalangan oknum pegawainya karena lokasi ini dianggap relatif kurang termonitor dan publik juga relatif tidak menyangka di dalamnya ada menyimpan pengguna narkoba .
“Sudah terbukti ada beberapa oknum PNS di Sumut terlibat pengguna narkoba. Jumlah ini baru yang terdeteksi, di luar itu mungkin masih banyak lagi. Oleh sebab itu kita harus melakukan upaya lebih intens agar perkantoran jangan sampai merebak dan dimasuki mafia narkoba,” tegas Zulkarnain yang juga Dosen IAIN Sumut ini.
Kepala Badan Infokom Sumut Drs H Eddy Syofian MAP sangat sependapat sosialisasi penanggulangan narkoba berbasis tempat kerja ini cukup strategis dan sangat diperlukan sebagaimana sikap Gubsu H Syamsul Arifin SE yang tetap merespon positip langkah-langkah Pimansu selama ini dengan memberikan perhatian khusus terhadap upaya penanggulangan narkoba di Sumut.
“Badan Infokom Sumut akan mengoptimalkan kerjasama dengan Pimansu ini terutama membangun sistem komunikasi agar masyarakat yang ingin berkonsultasi dapat melalui pusat informasi yang akan dirancang melalui ruang konsultasi pada website Badan Infokom Sumut,” tuturnya seraya mengemukakan tindaklanjut juga diprogramkan perlunya membentuk relawan anti narkoba mulai dari tingkat murid sekolah dasar hingga mahasiswa termasuk dari kalangan PNS dan pegawai swasta berbasis tempat kerja.
Sementara itu dalam audiensi ini Pimansu juga mengungkapkan secara umum peredaran narkoba di Sumut sangat mengkhawatirkan masyarakat terindikasi dari data barang bukti kejahatan narkoba tahun 2008 yang terdeteksi mencakup 1.617 tersangka.
Barang bukti peredaran gelap narkoba yang terdeteksi tahun lalu antara lain 3.264,6 kg, 4.209 amplop, 2.564 bungkus, 3.179 batang, 231 ons, 8.965 gram dan 73,5 linting ganja. Shabu-shabu terdiri dari 15 ons, 4.566 gram dan 807 paket, putaw 300 ons, 2,73 gram dan 124 paket, ekstasi 3.914,65 butir dan lain-lain 1.876 butir. Uang yang beredar pada bisnis narkoba di Sumut diperkirakan Rp 16,34 milyar.
Sumber :
Bandar Dunia Narkoba
Tak heran jika Batam sangat pas dijadikan kawasan industri dan perdagangan internasional. Tidak ada yang bisa membantah kalau Batam memiliki prospek bisnis yang luar biasa, asal dikelola dengan serius tanpa dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan yang bersifat politis dari pemerintah Indonesia.
Tidak hanya cocok menjadi kawasan industri, Batam pun memiliki potensi sebagai kawasan periwisata dan pemukiman. Kedekatan Batam dengan Singapura membuat Batam menjadi kawasan pariwisata alternatif bagi masyarakat Singapura dan negara lain yang membutuhkan nuansa alam yang tergolong relatif lebih natural dan mudah terjangkau.
Letak strategis Batam ternyata tidak hanya mampu menarik perhatian para pebisnis legal, etapi juga kalangan pengusaha ilegal, termasuk jaringan narkotika internasional. Penggrebekan pabrik shabu- shabu oleh tim Mabes Polri di sejumlah lokasi di Batam beberapa hari lalu membuktikan kalau Batam merupakan lokasi strategis bagi mereka.
Informasi yang diperoleh Tribun malah menyebutkan, Batam menjadi tempat pencucian uang atau money laundry hasil kejahatan, terutama hasil bisnis narkoba internasional. Disebutkan juga pengusaha narkotika mencuci uang mereka dengan mendirikan berbagai usaha termasuk usaha property. Dan bisa jadi, pencucian uang di Batam tidak hanya dilakukan oleh kalangan pebisnis narkotika, tetapi juga kalangan koruptor dari berbagai daerah.
Memang untuk membuktikan adanya praktek pencucian uang ini tidak mudah. Perlu ada kordinasi berbagai pihak yang benar-benar kuat, sehingga sumber-sumber dana yang mengalir ke Batam bisa diketahui dengan cepat, tanpa menimbulkan ketakutan bagi pemilik modal yang memang benar-benar murni melakukan bisnis legal di Batam .
Di sini juga diperlukan sistem pengawasan dari aparat yang harus benar-benar jeli sehingga kasus pabrik shabu-shabu di Batam yang kabarnya sudah beroperasi sejak tahun 2005 ini tidak terulang. Aparat kepolisian dalam hal ini Polda Kepri dan Poltabes Barelang harus menjadikan pengungkapan oleh Mabes Polri ini sebagai cambuk untuk melaksanakan pengawasan lebih baik lagi.
Jangan sampai terulang, tim Mabes Polri mampu mengungkap kasus besar di Batam, sementara aparat di Batam sendiri tidak tahu menahu. Harus ada evaluasi menyangkut hal ini sehingga aparat benar-benar mampu melaksanakan tugasnya. Jangan istilah Kuman di negeri seberang kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak terlihat.
Sumber : www.blogtribunbatam.wordpress.com
PEREMPUAN LEBIH MUDAH MENJADI PECANDU
Penelitian lanjutan menunjukkan perempuan lebih cepat mengalami ketergantungan terhadap zat adiktif dibanding pria. Selain itu, pemakaian salah satu jenis zat saja bisa memperbesar kemungkinan seorang perempuan mengonsumsi zat-zat adiktif lainnya seperti alkohol, rokok, atau jenis narkotika lain. kemungkinan tersebut jauh lebih tinggi dibanding pada pria.
Joseph A. Califano Jr., presiden CASA, mengatakan bahwa banyak faktor yang menyebabkan besarnya kecenderungan tersebut. Secara psikologis, perempuan lebih mudah terserang depresi disbanding pria. Perempuan juga cenderung memiliki kebiasaan makan yang buruk, dan lebih rentan terhadap penyiksaan fisik dan seksual. “semua faktor tersebut bisa meningkatkan kecenderungan wanita menggunakan zat adiktif,” papar Califano.
Selain itu, ada juga perbedaan perempuan dan pria dalam situasi sosial saat pertama berkenalan dengan zat adiktif tersebut. Pria umumnya berkenalan dengan zat adiktif dalam setting ini bisa amat berpengaruh, karena dalam setting tertutup kesan atau sensasi yang dialaminya bisa berbekas lebih dalam. Dibanding responden pria, lebih banyak responden perempuan yang mengatakan betapa lebih mudahnya mendapatkan zat adiktif illegal.
Yang lebih memprihatinkan, selain lebih cepat mengalami ketergantungan, wanita juga cenderung merasakan efek yang lebih parah akibat ketergantungannya tersebut. Karena perempuan lebih mudah mengalami depresi dibanding pria, kecenderungan bunuh diri perempuan pecandu lebih tinggi dibanding pria, secara fisiologis, paru-paru wanita juga lebih mudah rusak jika ia merokok. Perempuan juga cenderung lebih mudah mengalami kerusakan otak jika kecanduan alkohol.
Secara sosial, dampak ketergantungan zat adiktif pada perempuan juga lebih mengerikan. Perempuan pecandu narkotika dan obat-obatan terlarang cenderung lebih mudah terlibat dalam aktivitas seksual yang beresiko tinggi (misalnya, dengan partner seks yang tidak ia kenal sama sekali tanpa menggunakan pelindung). Perempuan pecandu berusia muda juga berkemungkinan lebih besar menjadi korban penyiksaan seksual dan fisik.
Perlunya tindakan preventif dan penanganan yang berbeda terhadap pecandu pria dan pecandu perempuan. “program-program rehabilitasi pecandu zat adiktif yang ada saat ini cenderung memberikan perlakuan yang sama terhadap pecandu pria dan perempuan. (Sumber: Majalah Lisa No. 34/2004).
TAPII…kita masih boleh lega bahwa meski penelitiannya menunjukkan kecenderungan perempuan lebih mudah menjadi pecandu, namun demikian, menurut sumber data di RSKO Jakarta, 2004, maka pecandu berjenis kelamin perempuan dari tahun 2000 hingga 2004 tertinggi hanya mencapai 10,34 % di tahun 2003. Sementara pecandu laki-laki pada tahun yang sama mencapai 89,66 %.
Sebagaimana dijelaskan dalam “Gambaran Penyalahgunaan NAPZA di Institusi Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA tahun 2001-2003 (Summary) “ Depkes 2004, diperoleh data bahwa pecandu perempuan menurut data dari Institusi tahun 2002 ada 8,8 % sementara laki-lakinya 91,2 %. Pada tahun 2003 ada penurunan sehingga hanya 7,5 % dan laki-laki mengalami peningkatan hingga menjadi 92,5 %.
Sedangkan menurut data dari LSM dari laporan yang sama, pada tahun 2002 pecandu perempuan ada 9,4 %, sementara pecandu laki-laki ada 90,6 %. Pada tahun 2003, perempuan 7,7 %, laki-laki 92,3 %.
Meski dari data diatas terlihat bahwa pecandu laki-laki lebih besar dari perempuan, namun demikian kita tidak boleh lupa, ada fenomena gunung es, yang artinya, data yang sebenarnya seringkali tidak terlaporkan atau tidak terdata. Jadi, hati-hati, baik perempuan maupun laki-laki, tetap saja tidak boleh menjadi pecandu narkoba. Mari hidup tanpa narkoba. Narkoba ? NO !
Sumber : www.nurularifin.com
CIRI-CIRI PEMAKAI NARKOBA
“ Saya kenal dia koq, rasanya tidak mungkin dia jadi pemakai narkoba..”
“ Anaknya baik banget, ga mungkin deh dia jadi pemakai. Lagipula kayaknya dia happy-happy aja, ga pernah ada masalah, jadi buat apa dia memakai narkoba ?”
“ Rasanya tidak mungkin dia jadi pemakai. Ia sangat cerdas dan prestasinya juga banyak.”
Ada beberapa tolakan lain yang enggan mengakui bahwa saudara atau teman dekat kita ternyata adalah seorang pemakai narkoba. Kenapa tidak mau diakui ? Bukankah di artikel lalu pernah disebutkan bahwa narkoba menyerang siapa saja, dimana saja dan bagaimanapun caranya.
Saya punya cerita seorang remaja SMU yang kuper karena jarang berteman karena ia lebih suka belajar dan membaca buku. Suatu ketika ada seorang temannya yang datang menawarkan sebuah obat yang bisa membuatnya tambah berkosentrasi. Ia tidak perlu memeras otak lebih banyak untuk mengingat segala macam rumus atau hapalan, cukup dengan mengkonsumsi obat tersebut saja. Pelajar SMU ini terbujuk, ia mau lebih berprestasi lagi, maka ia memutuskan untuk membeli dan memakai. Karena faktor sugesti, perasaan akibat kata-kata temannya bahwa obat ini berkhasiat meningkatkan kosentrasinya, maka remaja ini merasakan bahwa ia memang lebih bisa berkosentarsi. Akhirnya ia jadi sering menggunakannya, semakin lama semakin banyak, dan akhirnya ia mulai menunjukkan sifat-sifat khas pecandu.
Jadi kalau kita mengingat remaja SMU ini katakanlah Rendra namanya, apakah kita percaya dia bisa menjadi pemakai narkoba ?
Atau sebuah cerita lagi, teman saya ini sehari-harinya kuliah di PT Swasta paling top di Jakarta. Wajahnya yang ganteng dengan kendaraan sedan terbaru membuatnya tidak kehabisan mendapat pengagum. Wawan, sebut saja begitu sangat bahagia dengan hidupnya. Bapaknya kebetulan pengusaha yang tidak kenal korupsi jadi ia tidak khawatir kalau sewaktu-waktu bapaknya menjadi incaran polisi. Mamanya adalah perempuan lembut yang senang berorganisasi juga hobby membahagiakan anak dan suami. Pendek kata Wawan adalah orang yang bisa dicemburui karena bernasib baik. Suatu ketika ia datang kesebuah pesta teman di daerah puncak. Ketika ia pulang, mobilnya tabrakan dan ia tewas. Hasil visum dokter menyebutkan bahwa dalam tubuhnya ada narkoba dalam dosis tinggi.
Tak ada seorangpun mempercayainya. Tidak seorang pun menyangka bahwa Wawan akan menjadi korban narkoba juga. Ternyata pesta yang dihadirinya adalah pesta narkoba, dan kedatangannya kesana adalah untuk kesekian kalinya.
Wawan dan Rendra bukanlah orang yang punya masalah dengan kehidupan sosialnya. Wawan dan Rendra adalah orang-orang yang cukup puas dengan kehidupannya. Jadi bukan hanya orang yang bermasalah saja yang bisa kena narkoba, tapi orang-orang yang tidak punya masalah pun bisa menjadi pemakai narkoba.
Karena sebagian besar pemakai narkoba saat ini sudah menganggap narkoba sebagai bagian gaya hidup. Jika tidak ikut, mereka takut dikatakan kuno atau ga fungky. Pendapat yang tidak benar ini semakin diperparah dengan perasaan sugesti akibat terbujuk omongan yang tidak ada dasarnya. Seperti kasus Rendra, ia sudah menganggap bahwa narkoba-lah yang membuatnya lebih berkosentrasi. Padahal kenyataan sebenarnya, karena kemauan dan otaknya yang cerdas lah yang memungkinkan dia mencapai kosentrasi tinggi.
Jadi, siapapun diantara kita, saudara atau teman bisa menjadi pemakai narkoba. Kenali gejala-gejala ini jika ada diantara saudara atau teman yang memilikinya. Sebab inilah gejala orang yang menjadi pemakai narkoba dan mulai menjadi pecandu.
1. Perubahan perangai atau perilaku sehari-hari. Seperti biasanya periang tiba-tiba menjadi pemurung, mudah tersinggung dan cepat marah tanpa alasan yang jelas. Tapi bisa juga yang terjadi sebaliknya. Jika ia semula pendiam, tiba-tiba berubah menjadi lebih periang dan mudah tertawa.
2. Sering menguap dan mengantuk, malas, melamun dan tidak mempedulikan kebersihan atau penampilan diri Tapi kadang-kadang bisa berubah menjadi rajin sekali, bahkan seperti tidak kenal lelah.
3. Menjadi tidak disiplin atau sering kabur baik dirumah atau disekolah
4.Nilai rapor atau prestasi yang lain menurun
5.Lebih sering menyendiri, bersembunyi di tempat-tempat gelap atau sepi agar tidak terlihat orang
6.Lingkungan pergaulannya berbeda dari biasanya, atau lebih senang bergaul dengan orang-orang tertentu saja yang mempunyai ciri-ciri seperti tanda-tanda diatas.
7.Mencuri apa saja milik orang tua atau saudara untuk alasan yang tidak jelas, karena ia membutuhkan uang tersebut untuk membeli narkoba.
8.Sering cemas, mudah stress atau gelisah, sukar tidur dan mudah curiga
9.Pelupa seperti orang bego atau pikun
10.Mata merah seperti mengantuk terus dan biasanya menyembunyikannya dengan memakai kaca mata hitam
Sumber : www.nurularifin.com
ISTILAH SEPUTAR NARKOBA
Diantara pecandu narkoba, ada beberapa istilah yang biasa mereka gunakan. Jika kalian menemukan banyak sekali istilah2 tersebut dipakai oleh suatu kelompok, barangkali mereka memang pemakai narkoba. Tapi untuk pastinya memang dibutuhkan bukti dan perilaku lain yang mencirikan kalau mereka adalah pemakai narkoba.Yang jelas, kamu perlu waspada jika mereka memakai istilah2 itu untuk mengelabui kamu.
Inilah istilah-istilah itu..
Sakaw = sakit karena lagi "nagih"
BD = Sebutan untuk bandar narkoba
Parno = paranoid karena nge-drugs
Junkies = sebutan untuk pecandu
Relaps = kembali nge-drugs karena 'rindu'
Bong = alat mengisap shabu
O-De = Over dosis
PT = Sebutan lain putaw (heroin)
Ngubas atau nyabu = pake shabu-shabu
Bedak/etep putih = sebutan lain putaw (heroin)
Wakas = ketagihan
Pakauw = pakai putaw
kipe/cucauw/nyipet/ngecam = nyuntik/memasukkan obat ke tubuh
Pedauw/badai = teler/mabok
ubas = shabu
kertim = kertas timah
Afo = aluminium foil
Bhironk = Orang Nigeria/pesuruh
Insul/spidol = alat suntik
Paket/pahe = pembelian heroin/putauw dalam jumlah terkecil
Gauw = gram
Setangki, sperempi = 1/2 gram, 1/4 gram
Giber/giting/gonjes = mabok /teler
Hawai/cimeng/rasta/ulah/gele/bda stik = ganja
Selinting = 1 batang rokok/ganja
Inex = ectasy
Amphet = amphetamin
Snip = pakai putaw lewat hidung (dihirup)
Ngedrag = bakar putaw diatas timah
Bokul = beli barang
Gepang = punya putaw/heroin
Gitber = giting berat/mabok berat
Spirdu = sepaket berdua
Betrik = dicolong/nyolong
Koncian = simpanan barang
BB = Barang Bukti
Coke = kokain
Jokul = jual
Bokauw = bau
Kurus = kurang terus
Gantung = setengah mabok
BT/snuk = pusing/buntu
Boat/boti = obat
Abses = salah tusuk urat/bengkak
KW = kualitas
Mupeng = muka pengen
Pyur = murni
BT = Bad Trip (halusinasi yang serem)
Teken = minum obat/pil/kapsul
sumber: Health News
NARKOBA. Pasar Kuat, Bisnis Terus Berkembang
Demikian dikatakan Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Arman Depari. Selasa (10/2). Menurut dia. perubahan kegiatan dari kegiatan penyelundupan sabu dan ekstasi menjadi kegiatan produksi karena berkembangnya proses pembelajaran, bukan karena meningkatnya permintaan pasar.
"Kalau dulu para pelaku bisnis ini belum memiliki tenaga peracik, sekarang sudah karena berkembangnya proses pembelajaran," tutur Annan. Proses pembelajaran berlangsung lewat hubungan jaringan antarnegara dan internet, lanjutnya.
Menurut Arman, perubahan kegiatan tidak mengubah besaran biaya produksi. Jatuhnya sama saja. Meski demikian, ia mengakui, kegiatan produksi lebih menguntungkan saat mereka menghadapi polisi.
Tak terjerat
Kalau menyelundupkan barang jadi dan terbongkar polisi, para pelaku bisnis ilegal ini mudah terperangkap hukum. Namun, kalau hanya kedapatan menyimpan prekusor (salah satu ba-han baku) yang belum diolah, mereka bisa lolos dari jeratan hukum.
"Meski jumlah prekusomya mencapai puluhan kuintal, me-reka tidak bisa menuduh si pemilik atau penyimpan prekusor sebagai produsen sabu dan ekstasi sebelum polisi menemukan pabrik narkoba mereka," papar Arman.
Oleh karena itu. .Annan berharap adanya peraturan perundang-undangan tentang peredaran dan pengawasan prekusor. Dengan adanya undang-undang tersebut, peredaran prekusor bisa diawasi lebih ketat sehingga penyalah guna bahan tersebut mudah terlacak.
Mudah terkecoh
Keuntungan lain yang diperoleh produsen dengan memproduksi narkoba sendiri adalah mereka membuat ekstasi sesuai dengan permintaan bandar. Jadi, jumlahnya bisa jauh lebih kecil dibandingkan dengan kalau mendatangkan barang jadi.
"Polisi yang belum cukup punya pengalaman akan mudah terkecoh, seolah-olah para pelaku cuma bandar biasa yang memiliki atau menyimpan narkoba dalam jumlah terbatas," tuturnya.
Terakhir, pihaknya membongkar pabrik sabu berkedok warnet Seal Online Dust di Ruko Mutiara Taman Palem Blok A-3 Nomor 18, Cengkareng Timur. Jakarta Barat, Kamis 29 Januari lalu. Pabrik ini setiap tiga hari sekali memproduksi 12 kilogram sabu kelas satu. Jadi, setiap hari, dari tempat itu dihasilkan 4 kilogram sabu senilai Rp 6 miliar.
Dalam kasus ini polisi membekuk tiga tersangka. Merekaadalah bandar Suganda alias Mr Black, pemodal Wiryo Sutandar, dan peracik Edy Handoyo.
Lemah kerja sama
Pada bagian lain .Arman mengakui masih lemahnya kerja sama antarinstansi dalam menangani kasus narkoba dari hulu ke hilir. Hal ini dimanfaatkan para pebisnis barang haram ini guna membangun kerajaan bisnis mereka di Jakarta.
Hal serupa disampaikan Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane. Ia menilai instansi negara yang paling aktif menindak bisnis narkoba baru polisi. Itu pun baru di tingkat represif.
Instansi negara selain polisi yang seharusnya bisa lebih aktif adalah petugas imigrasi, bea cukai, pengelola lembaga pemasyarakatan, departemen, dan dinas kesehatan. Tiadanya kerja sama antarinstansi negara membuat peran polisi pun menjadi cuma sebatas "pemadam kebakaran".
"Ini baru soal kerja sama. Belum pada soal praktik korupsi di antara instansi negara yang menangani kasus narkoba," kata Neta. Menurut dia, dalam beberapa kasus, keluarga pengguna narkoba justru diperas oleh kalangan pegawai instansi maupun polisi.
Menyinggung soal kuatnya pasar narkoba jenis psikotropika ini. Arman mengatakan, "Pasar Jakarta memang kuat, tetapi lebih kuat pasar di Johor. Malaysia, dan Filipina." (WIN)
Sumber : http://hukumham.info/index.php?option=com_content&task=view&id=2257